Senin, 24 Maret 2008

TUMBUHAN ASAL KALIMANTAN SELATAN DAN TENGAH BERKHASIAT OBAT TRADISIONAL

Koleksi Plasma Nutfah Tumbuhan Obat

Usaha penggunaan bahan nabati dapat dimulai dengan mengoleksi tumbuhan yang telah diketahui manfaatnya, seperti bahan ramuan obat-obatan bahkan oleh masyarakat telah digunakan untuk mengendalikan hama tanaman. Selain itu juga perlu dikoleksi tumbuhan yang dapat mengakibatkan rasa gatal pada kulit, pahit, langu atau tidak disukai hama.
Penggunaan bahan nabati sebagai sumber senyawa bioaktif terutama sebagai bahan obat hampir tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan, karena pada umumnya bahan nabati tersebut mudah terurai atau terdegradasi sehingga tidak persisten pada bahan makanan.
Takahashi (1981), menjelaskan bahwa pada dasarnya bahan alami yang mengandung senyawa bioaktif dapat digolongkan menjadi :
a. Bahan alami dengan kandungan senyawa antifitopotogenik (antibiotika pertanian).
b. Bahan alami dengan kandungan senyawa bersifat fitotoksik atau mengatur tumbuh tanaman (fitotoksin, hormom tanaman dan sebangsanya).
c. Bahan alami dengan kandungan senyawa bersifat aktif terhadap seranngga/binang uji (hormon, feromon, antifidan, repelen, atraktan dan insektisidal).

Koleksi plasma nutfah tumbuhan yang mengandung bahan bioaktif (refelen, atrraktan, insektisidal dan bahan obat) telah dilakukan di lahan rawa (pasang surut dan lebak), tadah hujan dan lahan kering di Kalimantan Selatan, dan Tengah pada tahun 2002 – 2007. Hasil koleksi terdiri dari golongan rumputan, semak dan pohon-pohonan. Nama-nama tumbuhan yang telah dikoleksi belum diketahui bahasa umumnya (Bahasa Indonesia), sehingga masih menggunakan Bahasa Daerah Banjar. Tumbuhan yang dikoleksi pada umumnya berhasiat sebagai obat, namun ada juga yang dapat meracun terutama pada kulit dan sebagian lagi mempunyai bau yang menyengat. Dari hasil eksplorasi tersebut ditemukan 177 jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan bioaktif dan tumbuhan obat (Tabel 1).


Tabel 1. Jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai pestisida nabati dan tanaman obat
di Kalimantan Selatan dan Tengah pada Tahun (2002 – 2007).


Sumber : Asikin dan Thamrin (2002-2007).


Manfaat Tumbuhan
Akhir-akhir ini telah banyak dilakukan eksplorasi terhadap bahan tumbuhan yang mengandung bahan bioaktif dan bermanfaat sebagai kesehatan masyarakat (bahan pengobatan), kosmetik dan pestisida nabati. Telah didapatkan 177 jenis tumbuhan yang sudah dikoleksi sebagian besar bermanfaat sebagai bahan pengobatan tradisional, dan selin itu pula bahan tersebut juga tetapi berfungsi sebagai bahan biopestisida seperti :

Rumput minjangan (Chromolaena odorata)
Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat luka tanpa menimbulkan bengkak, tumbuhan ini berfungsi juga sebagai bahan insektisida nabati untuk mengendalikan beberapa jenis hama sayuran. Biller et al. (1994), melaporkan tumbuhan rumput minjangan juga dapat digunakan sebagai pakan ternak, namun harus melalui proses pengolahan seperti pengeringan dan penumbukan. Rumput minjangan mengandung Pas (Pryrrolizidine Alkaloids) sebagai racun, dan kandungan ini menyebabkan tanaman ini berbau menusuk, rasa pahit, sehingga bersifat repellent dan juga mengandung allelopati.

Cambai karuk (Piper caninum)
Tumbuhan tersebut dapat digunakan sebagai pengobatan tradisional sebagai obat dan berkhasiat untuk penyakit maag dan ginjal. Tanaman ini juga cukup meracun untuk mengendalikan hama daun sayuran. Menurut Campbell (1933) dan Burkill (1935) dalam Nunik et al. (1997) jenis tumbuhan yang telah diketahui berfungsi sebagai bahan obat, insektisidal dan repelen atau attraktan mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, steroid, asetogenin, fenil propan, dan tanin. Wijaya Kusuma (1995), melaporkan bahwa seperti tumbuhan Alamanda yang mempunyai sifat racun, ternyata mengandung Triterpenoid resin. Getah dari tumbuhan Alamanda dapat mematikan belatung (larva diptera) dan jentik nyamuk.
.
Sirih (Piper sp)
Tanaman tersebut dapat digunakan sebagai bahan pengobatan untuk sakit kepala.Dan selin itu pula daun sirih tersebut dapat digunakan sebagao bahan nabati untuk mengendalikan penyakit blas.
Mukhlisah, (2001) dalam Prayudi et al. (2002), melaporkan bahwa ekstrak daun sirih mengandung senyawa minyak atsiri, hidroksivacikol, kavikol, kavibetol, allypirokatekol, karvakrol, eugenol, eugenol metil ether, p-cymene, cineole, carryophillene, cadinene, estregol, terpene, sesquiterpene, fenil propane, tannin, diastase, gula dan pati. Sementara itu rimpang lengkuas mengandung minyak atsiri, sesquiterpene, camphor, galangol, cadinene, dan hydrate hexahydrocadelene.
Diantara senyawa-senyawa tersebut baik secara individual maupun kerjasama yang sinergis mampu menekan perkembangan patogen blas.



PENUTUP
Di dapatkan 176 jenis bahan tumbuhan yang dapat dimanfattakan sebagai bahan pengobatan tradisional, bahan baku kosmetik dan bahan pembuatan pestisida nabati. Dengan demikian jenis-jenis tumbuhan ini perlu penelitian tentang budidaya dalam mengkonservasi agar tetap berkelanjutan.

1 komentar:

nunung mengatakan...

Saya perlu info tentang pohon rambai dan kayu bangkal sebagai obat / kosmetika tradisional.
Ditunggu postingannya ya. Thx